Keistimewaan Kabupaten Pasaman

Pasaman, suatu kabupaten di Sumatera Barat yang dijuluki Wilayah Ekuator. Garis Khatulistiwa, garis khayal yang melintang membelah bumi jadi 2, melintas persis di atas wilayah ini.

Merambah kabupaten Pasaman dari pusat kota provinsi Sumatera Barat, Padang, mata kita hendak disuguhi dengan panorama alam yang memesona. Jalanan berkelok seperti ular yang meliliti pinggang Bukit Barisan. Deretan pegunungan sepanjang mata memandang, serta tempat perhentian semacam kedai kopi di bibir bukit, menyuguhkan minuman hangat di hawa yang sejuk.

Nama Pasaman, kata Kadis Pemuda, Berolahraga serta Pariwisata, Ricky Riswandi, berasal dari bahasa Minangkabau‘ pasamoan’. Maknanya‘ gotong royong’. Maksudnya negara Pasaman ini dibentuk dari hasil gotong royong bermacam- macam masyarakatnya. Keberagaman ini nampak dari Bahasa Mandailiang di sisi utara, Melayu di sisi timur, serta sebagian besar yang lain bahasa Minangkabau. Dari sisi budaya, sebagian warga Pasaman di belahan utara menjajaki garis generasi bapak, berbeda dengan Minangkabau yang matrilineal.

Tanah Tuanku Imam Bonjol serta Tuanku Rao

Di persimpangan kota Pasaman, monumen Tuanku Imam Bonjol berdiri gagah. Pahlawan Nasional yang mempengaruhi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda sekalian tokoh Padri ini memanglah berasal dari Pasaman. Tidak cuma satu, Tugu Tuanku Imam Bonjol yang berdiri di Pasaman. Suatu tugu yang lebih besar pula dibentuk di depan Museum Imam Bonjol, di pelataran Monumen Equator.

Perayaan Ekuator serta Perayaan Tuanku Imam Bonjol

Di tiap bulan Maret serta September, Komplek Monumen Ekuator serta Monumen Tuanku Imam Bonjol hendak dipenuhi wisatawan serta turis. 2 festival besar teratur diselenggarakan tiap tahunnya d i mari. Di 2 bulan tesebut, titik koordinat matahari pas melintasi khatulistiwa. Peristiwa alam ini dinamai Titik Kulminasi Matahari, bagaikan indikator kalau matahari tengah melintasi garis nol derajat.

Walaupun mempunyai klimaks kegiatan yang sama, kedua festival itu membagikan tema yang berbeda. Di bulan Maret, festival diperuntukkan untuk perayaan Tuanku Imam Bonjol. Agendanya juga pasti lebih dekat kaitannya dengan tokoh Tuanku Imam Bonjol. Sebaliknya di bulan September, perayaan lebih berfokus pada kegiatan kebudayaan setempat.

2 perayaan ini, dilindungi dengan baik oleh pewarisnya. Sebagaimana 2 kali setahun matahari melintas di tapal khatulistiwa.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *